Hari ini kembali disadarkan tentang peran yang kelak akan gue jalani. Psikolog? Ya. Semakin tau, semakin kenal profesi ini, semakin sadar kalau ini bukan profesi main-main. Helper? Konselor? Tanggung jawab profesi ini sehari-hari adalah menolong orang. Bukan sekedar memberikan saran, tapi lebih dari itu. Seperti apa yang udah gue pelajari di mata kuliah konseling, active listening. Mendengarkan dengan sepenuh hati. Buat diri kita sebagai orang yang benar-benar bisa menghargai orang lain, memahami kondisi orang lain, dan yang terpenting, membuat orang lain merasa dirinya dimengerti. Kita bisa bilang "I see, I know what you mean" "Iya, gue tau kok rasanya ada di posisi lo gimana" "Gue juga pernah ngerasain hal yang sama" Tapiii, ga cuma itu.
Tampilkan postingan dengan label just random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label just random. Tampilkan semua postingan
Baik. Alhamdulillah :)
Sejauh ini sih baik-baik aja. Sedang memulai kehidupan baru yang sebenernya ga baru-baru amat.
Hihihi. Alhamdulillah diberi rizki dan kesempatan untuk ngelanjutin sekolah. Biar jadi psikolog gitu. Semoga tercapai ya. Aamiin.
Dimana?
Masih di Jatinangor. Dibilang betah di Unpad, ya nyatanya gue survive dan hidup bahagia selama kurang lebih 4,5 tahun tinggal di Jatinangor, dengan segala suka dukanya ya pastinya. Jadi bisa dibilang betah. Bosan? Ya ga juga sih. Kalo selama ini gue bilang bosen, abaikan saja. Lebih karena berat ninggalin rumah dan keluarga sih sebenernya. Kalo dihayati lagi, ga bosen kok untuk kuliah dan tinggal di Jatinangor lagi.
Judulnya sih kuliah lagi. Tapi jelas beda. Awalnya sih sempet mikir bakalan stres banget. Apalagi pas hari pertama kuliah. Ahahahaha. Langsung ngebatin dalam hati: OH MY LIFE ! Stresnya tuh yang gimana yah, susah dijelasin. Terlalu absurd. Ngerasa khawatir banget ga akan mampu bertahan selama 2 tahun ke depan. Rasanya pengen cepet-cepet lulus. Tapi ya untungnya sih nih logika masih jalan. Elo ga hidup di dunia dongeng, Ayuuu. Mana ada tiba-tiba lulus terus jadi psikolog.
Sejauh ini sih baik-baik aja. Sedang memulai kehidupan baru yang sebenernya ga baru-baru amat.
Hihihi. Alhamdulillah diberi rizki dan kesempatan untuk ngelanjutin sekolah. Biar jadi psikolog gitu. Semoga tercapai ya. Aamiin.
Dimana?
Masih di Jatinangor. Dibilang betah di Unpad, ya nyatanya gue survive dan hidup bahagia selama kurang lebih 4,5 tahun tinggal di Jatinangor, dengan segala suka dukanya ya pastinya. Jadi bisa dibilang betah. Bosan? Ya ga juga sih. Kalo selama ini gue bilang bosen, abaikan saja. Lebih karena berat ninggalin rumah dan keluarga sih sebenernya. Kalo dihayati lagi, ga bosen kok untuk kuliah dan tinggal di Jatinangor lagi.
Judulnya sih kuliah lagi. Tapi jelas beda. Awalnya sih sempet mikir bakalan stres banget. Apalagi pas hari pertama kuliah. Ahahahaha. Langsung ngebatin dalam hati: OH MY LIFE ! Stresnya tuh yang gimana yah, susah dijelasin. Terlalu absurd. Ngerasa khawatir banget ga akan mampu bertahan selama 2 tahun ke depan. Rasanya pengen cepet-cepet lulus. Tapi ya untungnya sih nih logika masih jalan. Elo ga hidup di dunia dongeng, Ayuuu. Mana ada tiba-tiba lulus terus jadi psikolog.
Mencintai itu sulit
Ingin memberikan yang terbaik untuk
mereka yang kita sayang
Tapi tidak bisa
Hanya bisa marah
Malu pada kelakuan kekanakan
Tidak bisakah kau menyayangi mereka
yang ada di sisimu
Dengan lembut, dengan mengingat
asma-Nya
Kau bisa, kau yang tidak mau
Banggakah dengan sikapmu selama ini?
Hari ini aku sadar
Dengan apa yang aku punya, aku bisa
menyayangi mereka
Aku dididik bukan hanya untuk besar
Tapi juga untuk membesarkan
Jiwa-jiwa yang aku cintai
Wajah-wajah tak berdosa
Terlena dalam kasih sayang
Tanpa memberi rasa
Tanpa memberi makna
Aku tidak jadi gila
Aku disadarkan bahwa aku bisa menjadi
hebat
Untuk orang-orang yang aku sayang
Ingatkan aku Ya Allah
Akan doaku hari ini
Akan petunjuk-Mu hari ini
Aku bisa lebih hebat dari ini
Karena-Mu
Untuk-Mu
Apa karena aku sudah beranjak dewasa?
Aku diberi kesempatan untuk mengenal
makna tanggung jawab
Lebih besar dari sekedar definisi
Tanggung jawab akan hidupku
Lalu aku ingat kembali apa tugasku
Bukan sebuah tugas sederhana dan mudah
dilakukan
Banyak godaan, banyak kebimbangan
Bukannya aku ingin kembali ke masa
kecilku
Yang penuh dengan tawa dan rasa tidak
peduli
Aku sadar aku dibesarkan untuk apa
Untuk mengenal penciptaku
Untuk kembali pada-Nya
Untuk menjalankan amanah-Nya
Mencintai nikmat-Nya
Mengasihi yang ada di bumi
Untuk dikasihi yang di langit
Bolehkah aku berkata bahwa pikiranku
runyam ketika aku mengenal agama?
Ketika menyadari aku dilahirkan untuk
apa
Ketika menghayati bahwa hidup bukan
untuk menjalani apa yang kita sukai
Tapi untuk belajar mencintai sesuatu
yang kita bilang kita yakini
Karena kita manusia
Diberi harta lalu lupa
Berkata mencintai tapi tak memahami
Apa itu cinta
Aku ingin menjadikannya sederhana
Setiap nafasku
Setiap langkahku
Tidak ingin tidak beraturan
Tidak ingin goyah
Sederhana saja, aku ingin mencintai dan
dicintai
Tulus, tanpa beban, tanpa syarat
Aku hidup untuk mati
Sebut saja kematian adalah masa depan
Ya, karena memang begitulah adanya
Bisakah aku mencintai masa depanku?
Berjalan perlahan saja aku merasa lelah
Sungguh aku hanya ingin duduk manis di
sini saja
Bahkan aku ingin bertanya
Bolehkah aku pulang?
Ketika yang lain memilih untuk pergi
jauh
Aku memilih untuk tetap tinggal
Aku nyaman berada di sini
Bahkan kalau bisa, aku akan sedikit
memundurkan waktu
Menikmati setiap bahagia yang
menghiburku
Aku memilikinya
Dia lah yang paling memahamiku
Menemaniku selama bertahun-tahun hidup
di dunia
Membantuku merasa ketika yang lain
berjalan tanpa peka
Menangisiku ketika aku bersikap bodoh
Bodoh karena aku terlalu nyaman dengan
ini
Dengan apa yang aku jalani saat ini
Tidakkah aku ingin pergi?
Mungkin esok pagi matahari bersinar
lebih cerah
Mungkin esok pagi aku bisa bersenandung
merdu
Tidak mungkin tidak
Ketika aku membuka mata
Kisah ini baru dimulai
Kisah yang bersuara melalui
skenario-Nya
Berpikir tentang matikah kalian?
Berpikir tentang matikah mereka?
Aku iya
Tidak aneh kan?
Aku merasa kematian jauh dariku
Tapi dekat dengan orang-orang di
sekelilingku
Tidak
Aku bukannya sombong
Aku justru takut akan pikiran ini
Kau tahu kan khilaf itu dekat dengan
manusia?
Aku merasa hanya perlu membenahi diriku
Hanya yang bukan hanya sekedar hanya
Hanya yang butuh waktu bertahun-tahun
untuk aku pahami
Hanya yang harus aku lakukan dalam
hari-hariku
Banyak yang salah tapi aku pertahankan
Banyak yang tepat tapi sulit untuk aku
teruskan
Aku mudah lelah
Bahkan sebelum aku dikatakan berusaha
Khilafku dekat denganku Ya Allah
Amat sangat dekat
Lebih dekat dibandingkan hatiku pada-Mu
Wajar jika aku takut mengingat kematian
Melihat kematian pun seperti
menghentikan nafasku
Akankah detak jantung ini terhenti di
saat aku mencintai-Mu?
Akankah aku siap jika Engkau
mempercayakan aku hidup sendiri?
Aku ingin belajar untuk siap Ya Allah
Aku ingin seperti mereka
Selalu sepi jika tanpa-Mu
Langganan:
Postingan (Atom)