let me know more
Kalau di teori dukungan sosial, ada yang namanya received support dan perceived support. Received support itu dukungan yang kita terima. Misal, kita punya pacar. Kita bisa mengkalkulasi seberapa sering pacar kita menghubungi kita dalam sehari. Lima kali telpon dalam sehari? Lima belas sms untuk bilang dia sayang kita? Well, itu bisa dihitung. Nah, kalau perceived support, dukungan yang kita maknakan. Misal, dari lima telpon itu, cuma 1 kali telpon yang bener-bener membuat kita merasa diperhatiin. Dari lima belas sms, cuma 3 sms yang bener-bener meyakinkan kita kalau dia sayang kita. Kurang lebih begitu.
Jadi, kalau dianalogikan di sini, bisa dibilang orang-orang yang punya problem dan butuh didengarkan itu memang merasakan adanya received support. Mereka didengarkan dan mendengar kalau ada orang lain yang paham sama kondisi mereka. Tapiii, belum tentu mereka merasakan perceived support. Contoh dari gue aja ya, misal nih, gue cerita ke temen gue. Udah cerita panjang lebar, temen gue cuma bilang "Sabar aja ya. Gue tau itu sulit" Dan itu bukan respon yang gue harapkan. Gue ga merasa terbantu dengan itu. Itu yang gue pikirin, sampai detik ini. Ketika gue menjalani profesi gue kelak, gue pengen orang-orang yang percaya dan terbuka sama gue, bisa benar-benar merasakan kalau dirinya dipahami. That's why gue berpikir profesi ini berat.
Berat, tapi akan coba gue atasi. Dimulai dari diri gue dulu. Dari awal kuliah mapro, kita diajarkan untuk mengenal diri sendiri dulu. Gimana mau memahami orang lain, diri sendiri aja ga bisa dipahami. Sebagai psikolog, kita harus tau kelebihan dan kekurangan kita apa. Itu akan sangat membantu ketika kita menghadapi klien. Sanggup ga ya gue mengatasi problem klien ini? Dengan sifat yang gue punya? Pendekatan apa yang sebaiknya gue pakai? Mampu ga dengan kemampuan yang ada dalam diri gue? Itu sebabnya, kita harus benar-benar kenal diri kita.
Makin ke sini, gue makin kenal sama diri gue. Kenal, tapi belum tau gimana mengatasi karakteristik diri yang menurut gue bisa menghambat gue, baik dalam interaksi sosial gue sehari-hari ataupun ketika gue bekerja nanti. Apalagi kemarin abis kasuistika, setelah gue lihat-lihat lagi hasil tes gue, gue ketawa sendiri. Gue paham kenapa gue begini dan kenapa gue begitu. Semuanya tuh kayak puzzle. Satu demi satu gue sadar tentang siapa gue, gimana gue, dan akan seperti apa gue ke depannya kalau gue ga berubah.
Dan gue merasa, sebelum gue melangkah semakin jauh di mapro ini, gue harus membereskan diri gue. Keluar dari semua perasaan dan pikiran yang mungkin selama ini gue tutupi, yang gue pertahankan biar gue terlihat kuat, yang gue manipulasi sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. Percaya deh, setiap diri kita pasti punya sisi yang menurut kita sebaiknya disimpan rapat-rapat. Cuma kita yang perlu tau. Bahkan mungkin, kita ga sadar kita punya sisi itu di diri kita. Dan gue merasa penting banget untuk menghayati itu, setiap hari. Kenapa gue begini, kenapa gue begitu. Ga cukup sampe kesimpulan "Gue orangnya jutek" "Gue orangnya cuek" "Gue ga tahan sama orang yang bla bla bla"
Kita harus tau apa yang membuat kita begitu. Kita harus tau kapan kita bisa menampilkan sisi itu ke orang lain, dalam situasi apa, dan gimana caranya. Introspeksi diri? Ya semacam itu. Sekarang, setiap ada kejadian tertentu, gue bener-bener langsung berkaca ke diri gue sendiri. Belajar mengenal diri sendiri itu, campur aduk rasanya. Menyenangkan, tapi melelahkan. Dan jujur, ga mudah untuk menerima ketika gue sadar dan paham sepenuhnya tentang gimana diri gue yang sebenernya. Ada kalanya gue ga pengen mengakui satu sisi dari diri gue. Kesel? Iya. Tapi, ya inilah gue. Harus gue terima. Dan gue harus tau gimana caranya mengatasi sisi negatif dari diri gue.
Begitu deh kira-kira. Untuk melangkah lebih jauh, mulai dari mana ya? *kembali merenung dan menghayati*
0 comments:
Posting Komentar