Aku memesan segelas kopi untuk menemaniku menunggumu malam ini. Malam yang tidak terlalu dingin, tapi aku tetap merapatkan jaketku. Gerimis. Aku masih menunggu meskipun kamu bilang kamu tidak janji bisa datang. Entahlah, firasatku mengeja hari ini kamu akan datang.
Kamu pernah mengalami ini? Ketika kamu memikirkan seseorang, beberapa orang yang kamu temui terlihat seperti orang yang sedang kamu pikirkan, atau bahkan kamu rindukan. Malam ini aku seperti itu. Beberapa orang yang sedang berjalan, baru datang, dan bahkan ada orang yang tengah asyik mengobrol dengan teman atau pasangannya aku lihat seperti kamu. Ada seseorang yang penampilannya sangat mirip denganmu. Aku sempat terdiam sejenak. Memastikan penglihatanku bahwa itu adalah kamu. Tapi setelah aku menyipitkan mataku, itu bukan kamu. Aku menghela nafas. Dan tepat ketika aku menoleh ke arah pintu masuk, ada kamu. Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk memastikan kalau itu adalah kamu. Caramu berjalan dan caramu berpakaian sudah membuatku yakin. Tepat ketika itu, kamu melihat ke arahku. Kamu melambaikan tangan dan aku pun membalasnya. Sesederhana itu aku merasa senang karena firasatku sedang tidak salah.
Kamu mengulurkan tanganmu, tepat di hadapanku. Aku bingung. Dalam aturan agamaku, tidak ada yang namanya berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan padamu. Aku pun menjabat tanganmu. Dosa. Aku hanya bergumam dalam hati, berharap Tuhan mau memaklumi meskipun aku tahu ini bukan perkara yang bisa dimaklumi.
Kamu pernah mengalami ini? Ketika kamu memikirkan seseorang, beberapa orang yang kamu temui terlihat seperti orang yang sedang kamu pikirkan, atau bahkan kamu rindukan. Malam ini aku seperti itu. Beberapa orang yang sedang berjalan, baru datang, dan bahkan ada orang yang tengah asyik mengobrol dengan teman atau pasangannya aku lihat seperti kamu. Ada seseorang yang penampilannya sangat mirip denganmu. Aku sempat terdiam sejenak. Memastikan penglihatanku bahwa itu adalah kamu. Tapi setelah aku menyipitkan mataku, itu bukan kamu. Aku menghela nafas. Dan tepat ketika aku menoleh ke arah pintu masuk, ada kamu. Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk memastikan kalau itu adalah kamu. Caramu berjalan dan caramu berpakaian sudah membuatku yakin. Tepat ketika itu, kamu melihat ke arahku. Kamu melambaikan tangan dan aku pun membalasnya. Sesederhana itu aku merasa senang karena firasatku sedang tidak salah.
Kamu mengulurkan tanganmu, tepat di hadapanku. Aku bingung. Dalam aturan agamaku, tidak ada yang namanya berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan padamu. Aku pun menjabat tanganmu. Dosa. Aku hanya bergumam dalam hati, berharap Tuhan mau memaklumi meskipun aku tahu ini bukan perkara yang bisa dimaklumi.