S.Psi.

Senin, 21 Oktober 2013



Mau berbagi kebahagiaan :) Alhamdulillah, finally S.Psi. Hahay :P

Tepatnya hari Kamis, 17 Oktober 2013 kemarin, lupa jam berapanya (sekitar jam 11.30 kali yak), gue resmi menyandang status Sarjana Psikologi. Alhamdulillah.

Postingan ini gue buat sebagai salah satu bentuk rasa syukur gue setelah kurang lebih 8 bulan berjuang menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan antara Dukungan Sosial dari Pengasuh dan Teman Sebaya dengan Self-esteem pada Remaja di Panti Asuhan.” >> bakal kangen nih sama judul ini fufufu.

Heeem postingan ini semacam nostalgia kali yaa. Sembari gue menyampaikan rasa terima kasih gue kepada orang-orang yang telah mendukung dan membantu gue, gue sambil mengingat-ingat momen kebersamaan gue dengan mereka selama gue nyusun skripsweet :* Yaah berhubung kata pengantar di skripsi harus formal dan terbatas, jadi di sini aja ya gue sampaikan dengan frontal berjuta rasa terima kasih gue.

our strength, oh Allah

Minggu, 13 Oktober 2013

At times you may think everything is going wrong, yet you don’t realize that Allah is setting everything right.
I know you feel worn and tired. I know you’re tired of failing.
Rest, but don’t stop. You can do this. You got this.
Not because you’re strong, but because Allah is you’re strength.


When Allah wants it to happen, it surely happen in the most beautiful plan ever. 
Not forgetting Istikharah, Effort, Tawakkal, and Dua.

:))
untuk aku. kalian. kita.
orang-orang tersayang yang InsyaAllah berada dalam dekapan Allah SWT.

pray :)

I forever pray that you find what you seek.
May you find peace in your every endeavour in this worldly life.
And most of all, I pray that you are granted Paradise with all those you love, where you never have to shed a tear again.

kacau

Beberapa hari ini gue merasa hari-hari gue kacau. Entah sedikit atau banyak. Yang gue rasain, gue ga nyaman, gue ga tenang, dan cukup membuat gue bad mood. Maaf untuk beberapa orang yang kena imbasnya :(

Karena skripsi? Iya, salah satunya. Sebenernya bukan ini juga masalah utamanya. Gue masih bisa handle kok.
Kerjaan lain? Iya, salah satunya. So far, bisa gue handle juga.

Mikirin masalah orang lain? Iya, salah satunya. Ini, heem, gue ga yakin gue bisa bilang gue mampu handle. Gue ga bisa melakukan apa-apa selain menenangkan dan mendoakan. Gue tau, untuk beberapa masalah dan untuk beberapa orang, didengarkan dan ditenangkan, apalagi didoakan, that's enough. Tapi entah kenapa gue tetap merasa gue belum bisa melakukan sesuatu yang bermakna untuk orang-orang terdekat gue yang lagi bermasalah. Gue sedih melihat mereka sedih, dan makin sedih karena gue belum bisa bantu meringankan beban mereka. Mungkin ini salah satu yang bikin psikis gue jadi ga nyaman. Terlalu perasa, terlalu pemikir. Ketika ga bisa berbuat apa-apa, sedih sendiri :(

Keinginan untuk jadi orang baik dan sempurna yang bisa membantu dan menyenangkan hati orang lain? Kalau ini, gue curiga ini yang bikin gue sering uring-uringan sendiri. Ini tuh bukan masalah Yu, seharusnya. Tapi gue sendiri yang menjadikan ini masalah, bahkan pressure untuk diri gue sendiri. Gue pengen banget bisa bantu orang lain, tapi kadang suka ga sadar sama kemampuan sendiri sih. Kadang gue juga punya masalah, tapi paling ga bisa kalo ga ikutan mikirin masalah orang lain. Pengen bantuin, ga mau dibilang egois, tapi jadinya pusing sendiri. Sekalinya bilang lagi pengen sendiri, ngerasa jadi orang egois, ga punya empati, ga bisa diandalkan, feeling guilty, ngerasa jahat sama diri dan temen sendiri. Berlebihan ya? Memang iya, tapi memang gitu. Hmph.

di sebuah kota

Minggu, 06 Oktober 2013

Aku duduk diam di sudut kamar. Sekali lagi kamar ini akan aku tinggalkan. Dengan cerita dan tujuan yang berbeda.

"Mbak, kamu yakin mau pergi lagi?"

Aku terkesiap. Seketika lamunanku buyar ketika mendengar suara Tyas.

"Aku rasa tempatku sekarang bukan di sini. Mungkin beberapa tahun lagi aku baru bisa tinggal di rumah lagi, Yas."
"Kamu mau berpetualang lagi ya, mbak?"

Aku tertawa mendengar pertanyaan polos Tyas.

"Aku belum dapat apa yang aku mau, Yas. Tapi kali ini aku punya firasat, aku akan menemukan apa yang aku cari."

Aku tak sadar kalau raut wajahku benar-benar berbinar ketika mengatakannya kalau Tyas tidak mengarahkan wajahku ke depan cermin.

"Lihat deh, mbak, wajahmu itu loh. Mesam mesem. Awas kalo pulang ndak bawa apa-apa."

Pipiku bersemu saking bersemangatnya. Entah kenapa, kali ini aku yakin. Berbeda dengan perasaan sebelumnya.