tentang rasa
Seorang lelaki berkacamata duduk sambil menghadap layar laptopnya. Wajahnya berseri. Jari jemarinya dengan lincah bergerak berpindah dari satu huruf ke huruf lain, menghasilkan sederet tulisan yang tiada henti berpindah ke barisan selanjutnya. Sesekali ia diam sambil menyimak baik-baik lirik lagu yang diputar dari laptopnya. Senyum tersungging. Sesekali pula ia ikut menyanyikan lagu yang ia dengar.
Seorang perempuan berkacamata menghampiri meja lelaki itu sambil meletakkan sepiring puding coklat. Lelaki itu melirik puding itu sejenak. Puding itu terlihat manis bersanding dengan cangkir kopinya. Ia pun tersenyum ke arah perempuan tadi yang sudah duduk di sampingnya.
"Kamu buatin aku puding lagi?"
"Bosan ya?"
"Ga. Aku suka. Kalau bosan, aku boleh bilang kan?"
Perempuan itu tersenyum manis.
"Aku pikir kamu udah bosen dari dulu. Bilang aja, ga apa-apa kok."
"Kok kamu gampang sih ngomong gitu? Memangnya kamu ga kecewa kalau aku bilang bosen?"
"Kecewa lah pasti, tapi aku bisa apa kalau kamu memang udah ga suka. Aku ga bisa maksain kamu buat suka kan?"
"Kamu ga mau berusaha terus?"
"Aku nyerah juga ga akan segampang itu. Tapi untuk bertahan terus, aku mikir-mikir juga kali. Dimakan ya pudingnya, kalau belum bosen."
"Bentar lagi juga ini habis, tenang aja."
Sementara lelaki itu melahap pudingnya, perempuan itu mengambil alih laptopnya. Perempuan itu diam sejenak melihat tulisan yang tertera di layar laptop.
"Kamu nulis lagi?"
"Iya. Boleh kok kalau kamu mau baca."
"Sebelum nunggu ijin dari kamu juga aku udah baca."
Perempuan itu lagi-lagi diam. Ia menggigit bibirnya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia menelan ludah. Tiba-tiba saja ia ingin menangis.
"Pudingnya udah habis. As usual, kalau kamu yang buat selalu enak."
"Kamu masih suka nulis? Mau sampai kapan?"
"Iya, baca aja kalau kamu mau."
"Bukan masalah aku mau baca atau ga. Kamu mau sampai kapan begini terus?"
Perempuan itu memalingkan wajahnya dari layar laptop dan memandang piring puding yang sudah kosong. Seketika ia muak.
"Sampai aku bisa ngelupain dia."
Lelaki itu terdiam. Ia menatap layar laptopnya. Di situ terpampang jelas tulisan-tulisannya. Tulisan yang ia buat dengan segenap hati untuk memuja perempuan yang ia cintai dan sangat ia harapkan.
"Aku ga pernah liat usaha kamu untuk ngelupain dia. Yang ada setiap hari kamu makin jatuh cinta sama dia, Bay."
"Aku berusaha, Ran. Kamu ga tau sesakit apa aku ngelewatin hari-hari aku, tanpa dia. Cuma dia yang bisa bikin aku bahagia."
Lelaki itu menghentikan kalimatnya sejenak. Ia mengucapkannya dengan perlahan, tapi cukup membuat seluruh tubuhnya menegang. Seketika memori tentang perempuan dalam tulisannya itu berkelebat dalam ingatannya.
"Aku pengen banget bilang kalau kalimat aku sebelumnya itu ga bener. Kamu tau itu. Tapi nyatanya, aku sedih kalau tanpa dia. Aku ga bisa kalau ga ada dia di sisi aku."
"See, kamu yang bikin keadaan kamu kayak sekarang. Kamu yang ga mau ngelupain dia dengan pikiran kamu itu, Bay. Pikiran kalau kamu ga bisa hidup tanpa dia."
Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. Meskipun ia tidak bisa menahan air mata yang mulai membayangi pandangannya, ia tidak berniat melepaskan kacamatanya. Ia menahan sakit di dadanya. Rasa sesak yang tiba-tiba mengada membuat kepalanya pusing. Tapi ia tetap menegakkan kepalanya demi melihat wajah lelaki yang ia sayangi itu.
Lelaki itu hanya diam. Nafasnya mulai memburu. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Sudah berulang kali perempuan di depannya ini mengingatkannya untuk tidak lagi membuat tulisan-tulisan bodoh tentang cintanya. Tapi ia tidak bisa. Perasaan harus diungkapkan. Meskipun tidak didengar oleh orangnya, tetapi setidaknya perasaan itu tidak tersimpan, tersampaikan biarpun hanya lewat ruang hampa udara.
"Kamu bodoh. Dia udah nyakitin kamu, tapi kamu masih mau bertahan. Kamu berhak bahagia, Bay."
Perempuan itu berkata pelan. Sama sekali tidak ada niat dalam hatinya untuk menyakiti hati lelaki itu. Dia hanya ingin menyadarkan lelaki itu untuk tidak lagi berharap pada perempuan yang sudah meninggalkannya. Dia hanya ingin lelaki yang ia sayangi itu bahagia.
Lelaki itu menghela nafas. Ia tahu, maksud perempuan ini baik. Dia pun tidak ingin menyakiti hati perempuan ini. Dia menyayangi perempuan ini, meskipun rasa sayangnya tidak lebih dari rasa sayang kepada seorang sahabat. Perempuan ini yang selalu menghiburnya, mendoakannya, dan membuatkan puding coklat untuknya. Menyapanya tiap pagi, siang, petang, dan malam. Menemaninya menulis tentang rasanya. Sungguh, ia tidak tega melihat perempuan itu mulai menangis, apalagi menangisinya. Lelaki itu pun mulai mengatur nafasnya, kemudian berucap pelan.
"Kamu bodoh. Aku udah nyakitin kamu, tapi kamu masih mau bertahan. Kamu berhak bahagia, Ran."
Perempuan itu termangu. Detak jantungnya berhenti seketika. Ia merasakan seluruh tubuhnya lemas. Hatinya tak mampu menahan sentakan yang begitu hebat ketika lelaki tadi mengucapkan kalimat yang hampir sama dengan apa yang telah ia ucapkan. Tangisnya semakin ingin tumpah, tetapi ditahannya. Kembali didengarnya suara lembut lelaki itu.
"Kamu tau rasanya jadi aku. Kamu tau rasanya bertahan untuk seseorang yang kamu sayang, sekalipun orang itu ga pernah melihat kamu. Harusnya kamu tau apa alasan aku tetap ada di sini, Ran. Rasa sayang itu terlanjur ada, dan mengikat. Aku ga bisa ke mana-mana. Kalau kamu tanya, mau sampai kapan aku begini terus, kamu tanya sama diri kamu sendiri, Ran. Mau sampai kapan kamu mengharapkan aku?"
Air mata itu pun akhirnya tumpah. Perempuan itu tidak sanggup lagi menahannya. Ia semakin sakit mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari lelaki yang duduk di hadapannya itu. Kenapa apa yang dia katakan benar. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang. Dan kenapa saat ini lelaki itu menatapnya dengan sangat lembut. Perlahan lelaki itu menggenggam tangan perempuan itu yang mulai basah karena berkeringat dingin dan terkena air mata yang baru saja disekanya.
"Maaf aku harus bilang ini ke kamu, Ran. Aku pikir aku bisa berpaling ke kamu. Suatu saat mungkin bisa, tapi ga sekarang. Kamu ga perlu tanya aku lebih lanjut kan, Ran? Kamu tau, apa yang sekarang aku rasakan sama seperti apa yang kamu rasakan. Kita jalan masing-masing aja ya, Ran. Kamu boleh sayang aku, mengharapkan aku, tapi jangan minta aku untuk lihat kamu, Ran. Aku belum bisa."
Perempuan itu menarik tangannya. Ia hanya ingin melepaskan kacamatanya dan menangis sepuasnya. Ia pun mengusap wajahnya yang sudah penuh dengan air mata dan menggigit bibirnya. Kebiasaannya sejak kecil ketika ia sedang bingung. Ya, sekarang perempuan itu dalam keadaan bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia kesal karena apa yang lelaki itu katakan memang benar adanya. Mereka berada dalam posisi yang sama dan merasakan hal yang sama. Rasa cinta yang tidak seharusnya disertai harapan. Mereka hanya harus menunggu sampai masing-masing dari mereka sadar kalau mereka lelah dan mereka tidak perlu lagi menunggu. Tidak ada yang bisa menjawab sampai kapan rasa itu akan tetap ada. Tidak ada yang bisa menasihati untuk berpaling karena rasa itu menahan mereka untuk tidak pergi.
Lelaki itu menatap khawatir. Ia takut ia salah bicara sehingga menyakiti hati perempuan itu. Sungguh, tidak ada niat dalam dirinya untuk menyakiti orang yang menyayanginya. Tapi memang begini lah keadaannya, tidak mungkin ia memenuhi permintaan perempuan itu. Ia tidak bisa pergi dari tempatnya berada saat ini. Di hatinya masih ada perempuan lain.
................
................
"Kamu ga perlu minta maaf. Aku paham, sangat paham dengan apa yang kamu bilang barusan. Aku sama kamu itu sama-sama bodoh. Kamu benar. Dan kita berhak bahagia. Iya, tapi suatu saat nanti. Kalau sekarang, aku belum bisa. Susah untuk pergi dan lupain kamu. Boleh ya aku tetap di sini?"
Perempuan itu meminta dengan tulus. Ia merasa jauh lebih baik dan lebih lega sekarang. Ia mulai bisa mengatur nafas dan mengendalikan emosinya.
Lelaki itu tersenyum lega. Ia kembali menggenggam tangan perempuan itu. Kali ini, genggaman tangannya lebih erat.
"Boleh, Ran. Tapi maaf, mungkin aku akan tetap menyakiti kamu."
Lelaki itu menunduk. Sejujurnya ia tidak suka harus mengatakan hal itu.
"Iya, Bay. Aku yang mau kok. Aku yang memilih untuk tetap di sini, entah sampai kapan. Semoga ada akhirnya ya, Bay. Semoga suatu saat aku bosan."
Lelaki itu menengadahkan kepalanya, menatap lurus perempuan yang juga tengah menatapnya.
"Aku juga, Ran. Aku juga ga mau begini terus. Kamu tau itu."
Mereka berdua diam. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Menikmati setiap detik kerisauan hati yang muncul karena elegi yang mereka buat sore itu.
"Jadi, besok masih mau bikinin aku puding?"
Lelaki itu memecah keheningan. Perempuan itu tersentak. Ia terlalu larut dalam lamunannya. Sedetik kemudian ia mencerna pertanyaan lelaki itu, dan sedetik kemudian ia mengangguk, sambil tersenyum sangat manis. Semanis obrolan sore menjelang petang itu.
Suatu sore. Di sebuah ruang kerja. Secangkir kopi yang sudah dingin terhidang di meja. Isinya tinggal separuh. Sebuah piring dengan sendok kecil tergeletak di sebelahnya. Masih terlihat manisnya fla yang menempel di piring dan sendok itu, menjadi saksi percakapan dua pencinta.
0 comments:
Posting Komentar