karena kita berbeda

Jumat, 31 Mei 2013

Aku memesan segelas kopi untuk menemaniku menunggumu malam ini. Malam yang tidak terlalu dingin, tapi aku tetap merapatkan jaketku. Gerimis. Aku masih menunggu meskipun kamu bilang kamu tidak janji bisa datang. Entahlah, firasatku mengeja hari ini kamu akan datang.

Kamu pernah mengalami ini? Ketika kamu memikirkan seseorang, beberapa orang yang kamu temui terlihat seperti orang yang sedang kamu pikirkan, atau bahkan kamu rindukan. Malam ini aku seperti itu. Beberapa orang yang sedang berjalan, baru datang, dan bahkan ada orang yang tengah asyik mengobrol dengan teman atau pasangannya aku lihat seperti kamu. Ada seseorang yang penampilannya sangat mirip denganmu. Aku sempat terdiam sejenak. Memastikan penglihatanku bahwa itu adalah kamu. Tapi setelah aku menyipitkan mataku, itu bukan kamu. Aku menghela nafas. Dan tepat ketika aku menoleh ke arah pintu masuk, ada kamu. Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk memastikan kalau itu adalah kamu. Caramu berjalan dan caramu berpakaian sudah membuatku yakin. Tepat ketika itu, kamu melihat ke arahku. Kamu melambaikan tangan dan aku pun membalasnya. Sesederhana itu aku merasa senang karena firasatku sedang tidak salah.

Kamu mengulurkan tanganmu, tepat di hadapanku. Aku bingung. Dalam aturan agamaku, tidak ada yang namanya berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan padamu. Aku pun menjabat tanganmu. Dosa. Aku hanya bergumam dalam hati, berharap Tuhan mau memaklumi meskipun aku tahu ini bukan perkara yang bisa dimaklumi.


"Mau pesen apa?"
"Gue udah pesen kok tadi. Lo mau makan?"
"Iya, tapi ga tau mau makan apa."
"Makan nasi, biar gendut."
"Udah gendut kali ini. Lo ga mau makan?"
"Elo aja, gue udah makan tadi sebelum ke sini."

Aku pun melihat-lihat daftar menu dengan ditemani kamu yang mulai menyalakan rokokmu. Entah rokok ke berapa untuk hari ini. Aku diam, tidak protes. Kalau bersama orang lain, aku akan menyuruhnya pergi jauh-jauh. Kalau dengan kamu, aku tidak bisa. Menolak rokokmu berarti mengusir kamu, aku tidak mau.

"Katanya ga janji datang."
"Kata siapa, ini gue di sini. Gue memang mau ke sini nongkrong sama temen-temen gue, sekalian ketemu elo juga."

Aku tersenyum. Melihat tingkahmu, mendengar suaramu, merasakan kehadiranmu. Mungkin ini terdengar konyol, tapi aku menikmati setiap hembusan asap rokok yang kamu keluarkan. Tidak membuatku sesak, menenangkan.

Makananku dan cokelat pesananmu datang. Aku makan dengan lahap. Aku sibuk bercerita sementara kau, masih setia dengan rokokmu, mendengarkan setiap kalimat yang kuucapkan. Ekspresimu datar, sesekali kamu tersenyum dan tertawa. Tak lupa kamu mengaduk-aduk cokelat panasmu.

"Kamu tuh makan, makan aja. Ga usah sambil banyak cerita. Udah kecil, makan sambil cerita."
"Lah emang kenapa?"
"Nanti energi kamu abis buat cerita, percuma kan, ga jadi gendut."
"Hahaha, ya ga lah. Lagian siapa yang pengen gendut, penting ya jadi gendut."
"Ga penting sih. Gue cuma mau elo sehat, ga lupa makan, itu aja. Gue seneng liat lo makan sayur."
"Mau?"

Aku menyodorkan sepotong wortel ke arahmu. Kamu langsung menggeleng. Aku terdiam sejenak.

"Gue juga mau elo sehat."

Aku melirik rokokmu. Kamu balas menatapku. Sedetik kemudian kamu tersenyum.

"Aku tau kok. Ga mungkin kan ya aku misahin kamu sama benda itu."

Aku melanjutkan makanku. Kali ini aku makan tanpa berbicara. Bukan, bukan karena menuruti kemauanmu agar energiku tidak habis karena sibuk bercerita, tapi karena aku tidak tahu mau berbicara apa.

"Bulan depan gue balik."
"Oh iya? Dalam rangka apa?"
"Lebaran."
"Lebaran masih lama kali. Lagian emangnya kamu lebaran?"
"Ya emang ga boleh ikutan liburan kalo aku ga lebaran."
"Ya berarti jawabannya harusnya dalam rangka libur lebaran, bukan karena kamu mau lebaran."
"Ya suka-suka elo deh. Gue mau ngurus paspor sama visa gue di rumah."
"Paspor? Elo... jadi kuliah ke luar negeri?"

Kamu mengangguk. Aku terdiam. Aku masih belum bisa membedakan kapan kamu bercanda dan kapan kamu serius. Tapi yang aku tahu, mau kamu jadi pindah ke luar negeri atau tidak, aku akan tetap sulit untuk bertemu denganmu lagi. Mungkin malam ini yang terakhir.

"Elo liat deh cewek itu."

Aku melihat ke arah yang kamu tunjuk. Di meja di sudut sana, ada seorang perempuan yang tengah asyik berkutat dengan laptopnya. Perempuan dengan rambut sebahu, mengenakan kaus polos berwarna putih dengan sehelai scarf coklat melingkar di lehernya. 

"Temen lo?"
"Bukan. Cantik ya cewek itu."
"Ngegebet? Gih samperin."
"Hahaha, ga lah. Ga berani, lagian ngapain."
"Kali kan mau nambah kenalan. Lo bilang kan mau nambah kenalan sebanyak-banyaknya."
"Ga di sini juga kali."
"Tipe cewek lo begitu ya?"
"Iya, mirip-mirip gitu lah. Gue kan ga suka cewek baik-baik."
"Heh, maksud lo apa? Maksud lo cewek itu bukan cewek baik-baik?"

Aku melotot. Ini bocah seenaknya aja ngomong begitu.

"Lo liat aja sendiri."

Perempuan tadi mengeluarkan rokok dari dalam tasnya. Tangannya bergerak lihai menyalakan korek api dan sedetik kemudian asap rokok berhembus lincah keluar dari mulutnya.

"Sayang lo cewek baik-baik."
"Maksudnya?"

Aku mengernyit. Obrolan ini jadi aneh menurutku.

"Ga pantes kalo gue suka sama lo. Orang baik jodohnya juga pasti orang baik."
"Emang lo bukan orang baik?"
"Lo kenal gue, ga perlu gue jawab lah ya. Lo pernah cerita kan sama gue, di Al Quran ada penjelasannya, perempuan baik untuk laki-laki baik, dan sebaliknya."
"Lo masih inget?"
"Inget. Karena itu yang bikin gue mikir. Gue ga mau perjuangan lo selama ini sia-sia. Liat diri lo sekarang. Lo udah berubah sejauh ini dan gue ga mau ngerusak itu."

Aku terdiam. Apa yang kamu bilang benar. Aku pun tidak mau hanya karena masalah sepele yang disebut cinta, perjuanganku selama ini menjadi sia-sia. Kamu bukan alasan yang tepat bagiku untuk berhenti.

"Udah ah jangan bengong. Cokelatnya enak deh, cobain ya."

Kamu mendekatkan cangkir cokelatmu ke hadapanku.

"Dingin-dingin gini kamu malah pesen minuman dingin. Minum cokelatku aja ya, enak, hangat, manis. Ayo cobain."

Aku meraih sendok yang kamu sodorkan. Tanpa sengaja aku melirik pergelangan tangan kananmu. Ada tato baru di sana. Entah memang baru atau aku yang selama ini tidak menyadarinya.

"Bagus ga?"

Ternyata kamu sadar aku memperhatikan pergelangan tanganmu.

"Bagus."
"Yang bener lo? Lo tau ga, gue nyesel masang tato ini. Kemarin ada yang lebih bagus lagi sebenernya menurut gue, tapi ga tau kenapa akhirnya gue milih ini. Pas udah jadi, gue liat-liat kok jelek ya. Mana permanen lagi."

Aku memperhatikan tato bergambar salib itu.

"Gue pernah baca, terkadang pilihan yang terbaik itu adalah menerima. Jadi, kalo lo ga suka sama tato itu, ya terima aja. Ndak bisa diapus juga tho? Inget aja pendapat gue. Menurut gue tato itu bagus dan cocok kok di elo. Jadi lo ga perlu nyesel."

Aku tersenyum kepadamu. Aku serius bilang kalau tato itu bagus dan cocok untukmu. Kemudian aku menunduk, sibuk mengaduk-aduk minuman cokelatmu. Aku melirik kamu yang sedang memandangi tato barumu. Sedetik kemudian aku kembali menunduk karena aku tahu, kamu memperhatikanku.

"Menerima?"

Kamu tersenyum jengah saat mengatakannya.

"Dari awal kenal sama lo, gue udah tahu kalau gue harus menerima."

Aku kembali tersenyum. Lega mendengar apa yang kamu katakan barusan.

"Sama, gue juga."
"Boleh jujur?"
"Apa?"
"Tapi itu susah."

Miris. Aku hanya bisa menunduk sambil menggelengkan kepala. Membayangkan malam ini akan segera berakhir.

"Nih cokelat lo. Thanks. Enak, tapi manis banget."
"Sambil ngeliatin gue sih lo minumnya."
"Hahaha, apaan sih. Udah ah, gue balik duluan ya."
"Mau gue anter?"
"Hmm, ga usah. Gue balik sendiri aja. Lo masih mau nongkrong sama temen-temen lo kan?"
"Iya, tapi masak iya gue ngebiarin lo balik sendiri. Biar gue anter. Gampang ntar gue balik lagi ke sini."
"Gue bisa jaga diri, InsyaAllah. Kalo udah di kosan, gue kabarin lo. How?"

Kamu diam. Mematikan rokok terakhirmu. Rokok terakhir saat duduk bersamaku maksudnya. Entah berapa batang lagi yang akan kamu habiskan saat nanti kamu berkumpul dengan teman-temanmu.

"Oke. Gue percaya, Tuhan akan ngejagain lo."
"InsyaAllah. Ya udah gue balik ya. Elo jangan pulang malem-malem."

Aku beranjak dari tempat dudukku dan mulai berjalan menuju kasir. Tiba-tiba kamu berdiri dan ikut berjalan di sampingku.

"Mau ke mana?"
"Nganter kamu sampe depan aja ga boleh?"
"Hahaha, iya boleh deh."

Sesampainya di depan kafe, kamu mengulurkan tanganmu.

"Hati-hati. Kalo udah di kosan kabarin ya?"

Aku terdiam sejenak sambil memperhatikan uluran tanganmu yang menggantung di udara. Aku bingung. Dua kali kamu membuatku bingung malam ini. Kamu tahu aku berubah, tapi kamu tidak tahu apa makna perubahan itu. Dan aku bingung bagaimana menjelaskannya padamu. Kamu menatapku bingung. Aku tersenyum. Kita impas karena kita sama-sama bingung.

"Sori. Gue balik ya. Thanks."

Aku menangkupkan kedua tanganku di depan dada. Kamu memandangku dengan tatapan yang aneh menurutku. Aku tidak tahu apa maknanya dan aku tidak peduli. Aku tidak perlu tahu lebih lanjut tentang apa yang kamu pikirkan dan rasakan. Toh mungkin besok kita tidak akan bertemu lagi. Maaf, karena firasatku berkata begitu.

Aku berjalan menjauh. Dan saat aku menengok ke belakang, aku pun melihat kamu berjalan menjauh.

Dan sampai detik ini, lagu ini masih terngiang-ngiang di kepalaku.

... namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu kita yang tak sama.

Share This Post

2 comments:

  1. Ayuuuuuuu *peluk* gue pengen nangis gini bacanya..

    BalasHapus
  2. hihihi nangis ajaa bii, tujuan ini dibuat biar orang yg baca terharu *apalah*

    BalasHapus