(masih) tentang kita
Kalau soal sibuk, dipikir-pikir dan dirasa-rasa, gue juga punya kesibukan sendiri. Tapi gue kangen banget 2009 bisa ngumpul bareng lagi, nyanyi-nyanyi, joget-joget, foto-foto, ketawa-ketawa, sharing-sharing. Semua momen yang 2009 banget deh pokoknya :" Akhirnya kalau gue boleh bilang, ini persembahan terakhir gue untuk angkatan gue, temen-temen yang gue sayang, sebelum kita pisah dan jalan masing-masing. Alhamdulillah, banyak teman lain yang juga semangat untuk bikin acara liburan angkatan ini jadi. Dan akhirnya memang jadi !
Soal semangat sempet fluktuatif sih. Pernah ngerasa males banget ngurusin ini karena respon anak-anak ga sebaik yang diharapkan. Pernah berpikir kalau ga akan ada yang namanya liburan angkatan. Yang sibuk ya biarin aja sibuk, yang kangen 2009 ya biarin aja kangen. Ga terfasilitasi dengan baik. Bersyukurnya, banyak teman-teman lain yang bilang kalau liburan angkatan masih mungkin dibuat. Yah meskipun seburuk-buruknya cuma 50% yang ngumpul, tapi yang penting ngumpul deh.
Sempet sedih dan kesel, banyak banget yang ga bisa ikut dan ada beberapa yang ngebatalin juga. Padahal pengen banget ini jadi ajang silaturahim antar 2009. Sekarang kan pada sibuk masing-masing, seengganya di acara liburan ini, kita punya momen bareng yang mungkin memang akan jadi momen terakhir :" Aah sedih banget kalau ingat ini.
Masih jelas momen semalem waktu ngobrol sama anak-anak. Masih tentang 2009 dan segala dinamika yang terjadi di dalamnya. Kita disebut angkatan rapat karena dulu waktu kita masih maba dan sibuk nyiapin LP, kerjaan kita rapaaat mulu. Dan gue pribadi bener-bener ngerasain kebersamaan dan kekeluargaan di 2009. Setiap ada acara kampus, kita dateng, ngeramein. Kita gila-gilaan, dan gue berusaha untuk ga melewatkan itu.
Setahun, dua tahun. Kita kehilangan. Salah satu di antara kita pergi. Gue ga nyangka kalau harus kehilangan seseorang secepat ini. Gue nangis. Kita nangis. Mereka nangis. Sebelum dan setelah itu, cukup banyak hal yang ga menyenangkan terjadi di 2009. Firasat dia yang pergi bilang, dia mau lihat 2009 kumpul bareng lagi karena setelah diingat-ingat, momen itu memang mulai berkurang. Apa iya harus nunggu ada musibah baru 2009 bisa ngumpul? Bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk berduka.
Hal yang bisa dianggap alasan dan dimaklumi adalah semakin tua kita di Fapsi, tuntutan kita sebagai mahasiswa makin banyak. Tugas dan praktikum bejibun, organisasi juga bikin kita jadi full schedule, dan kita ga hanya dituntut untuk ngurusin diri sendiri dan angkatan kita sendiri, tapi juga angkatan lain. Jadi mau gimana, ga bisa dipaksakan untuk 2009 ngumpul karena memang waktunya selalu kurang pas.
Tiga tahun. Satu orang lagi pergi. Kesedihan yang lama masih ada, dan kita harus kehilangan lagi. Gue nangis. Kita nangis. Mereka nangis. Semuanya nangis. Lagi-lagi ga nyangka kalau akan ada kejadian ini, lagi.
Gue ga tau sejak kapan masalah ini ada. Jujur gue bukan termasuk orang yang peka dan concern sama urusan kampus. So far, gue ngerasa angkatan gue baik-baik aja. Memang ada beberapa masalah yang menimpa 2009, tapi gue ga pernah nyangka kalau masalahnya sekompleks itu. Gue pikir masalah-masalah itu akan selesai dengan sendirinya dan temen-temen gue bisa dengan cukup bijak menanggapinya. Tapi nyatanya, ga sesederhana itu. Okay, mungkin memang gue yang terlalu cuek dan ga mau ambil pusing karena nganggep itu masalah sepele. Gue berpikir gue dan teman-teman gue tinggal di zona nyaman, tapi ternyata ga :)
Kita ga sehangat dulu, ga seakrab dulu, dan ga seikhlas dulu. Mungkin ada beban yang kita pikul, masing-masing, bukan sebagai satu angkatan. Bahkan kalau dengar cerita salah satu teman gue, ada pihak di luar kita yang mempertanyakan: apakah kita memang sudah siap untuk berjalan masing-masing?
Gue ga tau gimana teman-teman yang lain. Kalau gue pribadi, gue merasa kuat. Selama ini, kalau memang ga ada orang lain yang bisa gue andalkan, ya gue akan jalan sendiri. Prinsipnya, kalau bukan lo yang menguatkan diri lo sendiri, ya siapa lagi? So far, gue hanya bisa dan lebih nyaman untuk mengandalkan beberapa teman dekat gue, ga perlu dibawa ke angkatan.
Pertanyaannya, apakah gue, dan kita, memang benar-benar kuat? Atau memaksakan diri untuk kuat? Atau pura-pura kuat?
Kalau gue lihat temen-temen 2009 yang lain, gue ngerasa mereka juga mampu kok jalan sendiri. Okee, ga semua, tapi sebagian besar. Okee, belum tentu sebagian besar, mungkin juga hanya sedikit yang mampu survive sendirian. Sisanya? Gue ga tau. Merasa tersentil ketika semalem ada yang bilang gini: "Mungkin memang ada di antara kita yang bisa jalan sendiri, tapi masih ada loh yang menganggap 2009 itu rumahnya. Kalau ada apa-apa, dia pengen balik ke kita, tapi kitanya ga ada. Dan akhirnya dia harus jalan sendiri."
Hmm, I see. Mendengar itu, gue mencoba introspeksi. Sesibuk itukah kita sampai ga bisa mengurus keluarga kita sendiri? Se-engga berharga itukah 2009 sampai kita ga lagi memprioritaskan angkatan?
Tuntutan. Sejauh ini, lagi-lagi itu alasan yang bisa menjelaskan untuk memaklumi. Kita udah "gede", bisa jalan masing-masing, ga perlu dituntun, ga perlu pegangan. Banyak yang bilang hidup itu keras. Kalau mau survive, ya belajarlah untuk berusaha dan mandiri. Dan ga selamanya kita ada di lingkungan Fapsi dan keluarga 2009. Memang akan ada saatnya kita putuskan, jalan mana yang akan kita ambil. Dengan atau tanpa 2009.
Dipikirkan gimana pun juga, masalah ini ga akan selesai. Ga akan ada habisnya. Gue sempet ngobrol sama beberapa temen 2009 dan kita akhirnya sampai pada satu kesimpulan: balikin lagi aja ke orientasi masing-masing. Untuk mereka yang memang lebih orientasi ke target pribadi, ya silakan lanjutkan. Itu memang udah tugas perkembangannya. Lulus, cari kerja, mapan, menikah. Untuk mereka yang memang lebih campus oriented, ya silakan keluarkan unek-unek apa yang ga membuat nyaman di kampus dan cari solusi ke pihak yang memang bisa dipercaya dan dianggap bisa membantu.
Sekarang, bahkan dari dulu sebenernya, kita ga bisa memaksakan apa yang seharusnya menurut kita. Masing-masing punya perspektif sendiri, meskipun yang namanya kekeluargaan itu bisa dibentuk. Tapi satu hal yang semalem buat gue mikir adalah: 2009 itu kebanyakan mikir dibandingkan merasa. Kognisinya lebih jalan dibandingin afeksi. Otomatis yang menang ya logikanya. Makanya, kita ga pernah tau, atau ga benar-benar tau, apa makna kehilangan :)
Kehilangan dua dari kita harusnya cukup bikin kita mikir, apa makna kita satu sama lain. Tapi entah ya, yang ada kita malah semakin jauh. Eh, menurut gue sih. Ditambah masalah-masalah lain yang bikin kita makin lepas dari ikatan kita. Pertanyaan lanjutannya ada juga: Memangnya kita terikat? Apa kita memang punya rasa memiliki? Kalau iya, seharusnya ketika ada yang hilang, kita sadar kalau kita kehilangan dan butuh. Kalau tidak, mungkin bisa dicek lagi hatinya :"
Gue ga tau. Gue ga bisa menilai orang lain. Gue ga bisa menilai teman-teman gue sendiri. Bahkan menilai diri gue sendiri gue belum bisa. Seharusnya gue belajar untuk lebih peka dan belajar merasa. Gue ga tau sesayang apa gue ke 2009, sebutuh apa gue sama mereka, dan seberharga apa mereka untuk gue.
Yang gue tau, gue seneng, seneng banget, ketika 2009 ngumpul. Mungkin ekspektasi gue terlalu berlebihan ketika gue mengharapkan 2009 membaur jadi satu. Buat gue, melihat 2009 ada, bareng-bareng di satu tempat dan waktu yang sama, udah lebih dari cukup. Kalian mau jungkir balik, sibuk sama gadget masing-masing, ngerumpi sama peers masing-masing, atau apapun, it's okay.
Gue ga tau ke arah mana sebenernya postingan gue ini. Gue cuma menyampaikan kesimpulan-kesimpulan yang gue tangkep dari hasil obrolan semalam dan beberapa sudut pandang gue tentang 2009. Subjektif, tapi itu yang sejauh ini gue rasakan. Entah ini hasil merasa, atau berpikir ;)
Gue sedih ketika membayangkan mungkin ga akan ada lagi momen seperti kemarin. Gue ga tau kapan akan ketemu kalian lagi. Seperti kata seorang teman di 2009: Kita bisa aja lulus, tapi meninggalkan angkatan yang sedang bermasalah. Saat ini, gue hanya bisa mengirimkan doa. Doa untuk kebaikan kita semua, 2009 :" Dimanapun kita, gue sayang kita. Gue sayang 2009, sayang banget. Apapun kelebihan dan kekurangan kita, baik di mata kita ataupun orang lain. Maaf, dan terima kasih, kita :"
0 comments:
Posting Komentar