di sebuah kota

Minggu, 06 Oktober 2013

Aku duduk diam di sudut kamar. Sekali lagi kamar ini akan aku tinggalkan. Dengan cerita dan tujuan yang berbeda.

"Mbak, kamu yakin mau pergi lagi?"

Aku terkesiap. Seketika lamunanku buyar ketika mendengar suara Tyas.

"Aku rasa tempatku sekarang bukan di sini. Mungkin beberapa tahun lagi aku baru bisa tinggal di rumah lagi, Yas."
"Kamu mau berpetualang lagi ya, mbak?"

Aku tertawa mendengar pertanyaan polos Tyas.

"Aku belum dapat apa yang aku mau, Yas. Tapi kali ini aku punya firasat, aku akan menemukan apa yang aku cari."

Aku tak sadar kalau raut wajahku benar-benar berbinar ketika mengatakannya kalau Tyas tidak mengarahkan wajahku ke depan cermin.

"Lihat deh, mbak, wajahmu itu loh. Mesam mesem. Awas kalo pulang ndak bawa apa-apa."

Pipiku bersemu saking bersemangatnya. Entah kenapa, kali ini aku yakin. Berbeda dengan perasaan sebelumnya.

"Besok berangkat jam berapa, mbak? Aku ikut nganter mbak Ratih ke bandara ya?
"Jam 2 siang, Yas. Kamu memang harus nganter aku."

Aku mencubit gemas pipi Tyas yang disambut dengan tawa renyahnya.

.....

Aku memarkirkan sepedaku di pinggir taman. Aku lelah bersepeda sendirian. Tidak ada teman yang bisa aku mintai pendapat, apa harus berbelok ke kanan, ke kiri, atau tetap lurus. Tidak ada yang meminta aku tunggui jalannya, tidak ada pula yang meminta aku untuk mengayuh lebih cepat demi mengimbangi jalannya. Sendiri. Itu aku. Saat ini.

"Nji, ngelamun aja kamu."

Aku menoleh. Bimo, sahabatku.

"Aku tau kenapa kamu memutuskan untuk tetap tinggal di sini."

Aku melirik Bimo sambil meneguk air mineral yang disodorkan Bimo saat menghampiriku barusan.

"Kamu ga akan bisa jalan-jalan naik sepeda lagi kan kalo kamu pindah ke kota itu?"

Bimo meneruskan ucapannya sebelum aku memintanya.

"Menurut kamu, pertimbangan aku sedangkal itu, Bim?"
 "Hahaha, filosofi, Nji. Kamu terlalu cinta sama kota ini."

Panji tersenyum.

"Aku lahir di sini, hidup di sini, hancur di sini, dan ingin hidup, lagi, di sini, Bim. Di kota ini."
"Kota yang tepat untuk memulai kisah yang manis, Nji."
"Dengan seseorang yang juga manis."
"Siapa?"
"Kamu, Bim."
"Hahaha, ngaco kamu. Firasatmu bilang apa?"

Panji memandangi langit sore yang balas memandangnya dengan ramah. Sebentuk awan menarik perhatian Panji. Bentuknya yang unik membuat Panji terdiam selama beberapa saat untuk mengamati awan itu dengan cermat. Sebentuk wajah. Panji tersenyum.

"Mungkin dia ada di sana, Bim."

Bima mengikuti arah pandangan Panji. Langit sore yang cerah. Dan sebuah pesawat terbang.

Share This Post

0 comments:

Posting Komentar