thanks, Danar ! :)
“Lagi suntuk ya, Ca, makanya ngajak gue jalan?”
Aca yang sedang sibuk memperhatikan lalu lalang kendaraan
di jalan langsung menoleh. Dilihatnya Danar tengah menatapnya sambil tersenyum.
Aca kemudian mengalihkan kembali perhatiannya ke jalan raya.
“Gue ngajak lo jalan sebelum kita ga bisa jalan bareng
lagi, Nar.”
Danar mengerutkan keningnya.
“Kenapa, Ca?”
“Gue pengen tetep di sini, Nar. Kalau semuanya bisa
berjalan seperti apa yang gue mau, gue pengen tetap tinggal di sini, bareng
keluarga gue, bareng elo.”
Danar mencoba berpikir keras tentang apa yang diucapkan
oleh Aca. Aca yang ia kenal adalah seseorang yang ceria dan bisa dikatakan
jarang menceritakan masalahnya. Saat ini, Danar merasa ada sesuatu yang lain
dalam diri Aca.
“Ca, gue juga maunya elo tetap di sini.”
“Kenapa berhenti, Nar?”
Aca menatap Danar heran. Sepuluh menit yang lalu mereka
baru saja menyepakati akan pergi ke kedai martabak favorit mereka. Tapi kenapa
sekarang Danar mendadak berhenti di depan tukang gorengan??
“Lo mau beli gorengan?”
Danar tertawa.
“Ga lah, kan kita mau beli martabak.”
“Ya terus?”
Aca meminta penjelasan.
“Pantang buat gue nyetir sambil galau, Ca. Ntar gue nabrak
lagi. Lo tau kan track record
kecelakaan gue gimana.”
Aca mengerutkan kening.
“Lo lagi galau? Astaga, Nar.”
“Hahaha. Elo kali yang bikin gue tiba-tiba galau, Ca.”
“Loh, kenapa gue?”
“Kan tadi gue udah bilang, gue juga maunya elo tetap di
sini, Ca. Biar bisa gue ajak jalan terus.”
Aca terdiam mendengar perkataan Danar.
“Sori ya, Nar. Pikiran gue tuh tiba-tiba suka absurd
sendiri. Gue sedih karena sebentar lagi harus pergi.”
Danar tersenyum.
“Absurdnya dibagi sini. Gue belum pernah tau yang namanya
absurd itu gimana.”
“Ah elo, terlalu nyantai sih orangnya. Terlalu simpel,
Nar.”
“Justru itu Ca, hidup itu udah ribet, ngapain dibikin ribet
lagi. Kita buat sederhana aja lah.”
“Kalo gue sedih karena harus ninggalin keluarga gue dan
elo, itu sederhana ga, Nar?”
Danar terdiam.
“Iya, Ca. Itu sederhana kok. Sesederhana kita yang lagi
laper, terus kita pergi untuk beli martabak karena di rumah lagi ga ada makanan
yang bisa kita makan. Kalau udah kenyang, ya tinggal pulang, Ca. Rumah masih
tetap jadi tempat yang nyaman untuk kita kembali dan kita bisa istirahat
sepuasnya.”
“Gue ngerasa nyaman ada di rumah, Nar. Ga ada tempat yang
lebih baik selain di rumah.”
“Tempat untuk apa, Ca? Untuk makan tidur makan tidur? Ca, life must go on.”
“Coba lo jadi gue, Nar. Lo harus pisah dari keluarga dan
orang yang lo sayang.”
“Gue udah pernah ada di posisi lo, Ca. Bahkan sampai
sekarang. Bedanya, orang tua gue yang ninggalin gue di rumah.”
Aca menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin menangis.
“Ca, ini kan demi masa depan lo. Gue tau lo punya cita-cita
yang harus lo raih. Dan gue tau, elo tau banget, lo ninggalin orang-orang yang
lo sayang di sini, bukan karena lo memang mau ninggalin mereka. Tapi karena ada
sesuatu yang akan lo perjuangkan dan lo persembahkan untuk mereka, nantinya.
Butuh waktu yang ga sebentar memang, dan butuh hati yang kuat. Tapi gue yakin,
elo sanggup, Ca. Ini impian lo dari dulu kan?”
Aca menarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan
kencang. Saat ini ia tengah berusaha meregulasi emosinya. Ia mencerna setiap
kata yang keluar dari mulut Danar dengan hati-hati.
“Ada lagi ga, Nar?”
“Apaan?”
Danar menatap Aca heran.
“Ya apa kek gitu yang bisa bikin gue makin tenang. Yang
barusan udah ngena sih, tapi masih kurang.”
Tawa Danar seketika meledak.
“Aduh, Ca, lo apa-apaan deh. Aneh tau ga omongan lo.”
“Ada lagi ga? Biar gue bener-bener tenang nih. Biar gue ga
jadi nangis.”
Danar menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hmm, apa ya? Life
must go on, Ca, tapi bukan untuk sekedar makan tidur makan tidur. Ada sih
memang, orang hidup sampai tua yang kerjaannya leha-leha aja, ya kayak lo
sekarang ini.”
Aca melotot.
“Kayak gue juga.”
Danar meralat omongannya.
“Ya sebut aja kayak kita sekarang ini. Enak memang tinggal
di rumah, kumpul sama keluarga, jalan bareng temen. Seperti yang orang-orang
sering bilang, dan kita rasakan sendiri, bahagia itu sederhana, Ca. Sesederhana
bisa makan martabak bareng gue siang hari begini.”
Aca tergelak.
“Sesederhana bisa tidur di kamar kita yang nyaman,
sesederhana makan masakan nyokap tiap hari, sesederhana nyambut bokap pulang kerja setiap sore, sesederhana
bisa curhat sama kakak, sesederhana ngajarin adik kita ngerjain PR ....”
Aca terpaku. Matanya mulai berkaca-kaca. Suara Danar
terdengar begitu lembut di telinganya. Setiap kata yang ia ucapkan mampu
menguraikan pikiran-pikiran absurd yang sejak beberapa hari terakhir
mengganggunya.
“... sesederhana dikasih tisu sama orang yang lo sayang
waktu lo nangis.”
Aca menerima uluran tisu dari Danar.
“Tapi Ca, masalahnya hidup kan ga sesederhana itu. Setiap
pagi lo bangun, harus selalu ada pencapaian baru dalam hidup lo. Seperti waktu
kita kecil, hari pertama kita belajar huruf A, dan seterusnya sampai hari ke 26
kita belajar huruf Z. Terus kita belajar membaca kalau huruf-huruf itu dikombinasikan
jadi berbagai macam kata. Kemudian kita belajar angka. Dan seterusnya Ca,
sampai detik ini kita hidup, udah banyak banget hal yang kita pelajari. Karena
hidup bukan sekedar untuk makan tidur makan tidur, Ca.”
Aca tersenyum menyimak ucapan Danar.
“Dan bukan sekedar untuk nonton Running Man atau drama Korea.”
“Nah, itu dia, Ca.”
Danar menjentikkan jarinya. Aca memutar bola matanya.
“Iya, Nar. Gue paham sekarang. Karena hidup udah ribet,
makanya bahagia harus diciptakan sesederhana mungkin ya?”
“Iya. Menurut gue sih, begitu, Ca.”
Aca mengangguk-angguk.
“Gue belajar tentang itu ketika gue menyadari, bahagia itu
sesederhana gue menyambut bokap nyokap pulang dari dinas. Ya meskipun kadang
cuma 6 bulan sekali, Ca. Semua kangen dan waktu yang ga pernah gue habiskan
bareng mereka, tergantikan. Dan gue selalu berusaha untuk mensyukuri itu.
Hehehe.”
Danar menundukkan kepalanya. Sebentar, karena kemudian dia
menoleh ke arah Aca ketika Aca menepuk pelan lengan kirinya. Danar tersenyum
melihat Aca yang kembali tersenyum meskipun wajah Aca masih dibasahi oleh air
mata.
“Lo nangis karena omongan gue ya, Ca?”
“Hehehe.”
“Tadi katanya gue disuruh ngomong biar lo ga jadi nangis,
Ca. Gimana sih lo. Udahan ah nangisnya. Nanti dikira tukang martabak gue lagi
yang bikin lo nangis.”
“Loh, emang iya kan, Nar? Lagian gue nangis karena terharu
kali. Gue seneng banget punya temen kayak lo. Thanks a lot ya, Nar.”
“Ya tapi tetep aja, Ca, dikira orang lo nangis karena gue
nyakitin elo.”
“Hahaha. Iya deh, ini udahan nangisnya.”
“Sip. Cabut beli martabak ya kita?”
“Lo udah ga galau lagi? Udah bisa nyetir sekarang?”
“Masih sih, Ca. Gue penasaran, pengen nyobain bahagia yang
sederhana dalam bentuk yang lain.”
“Maksudnya?”
Danar tersenyum sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.
“Apakah bahagia itu sesederhana ketika nanti gue nyambut lo
pulang lagi ke sini ya, Ca?”
Danar, gak nge-host The Comment? *merusak mood*
BalasHapusGa, danarnya lagi sibuk.. Udah ya jangan ganggu2 danar !
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus