thanks, Danar ! :)

Rabu, 26 Februari 2014

Bandar Lampung, 18 Februari 2014, 13.10 WIB


“Lagi suntuk ya, Ca, makanya ngajak gue jalan?”

Aca yang sedang sibuk memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan langsung menoleh. Dilihatnya Danar tengah menatapnya sambil tersenyum. Aca kemudian mengalihkan kembali perhatiannya ke jalan raya.

“Gue ngajak lo jalan sebelum kita ga bisa jalan bareng lagi, Nar.”

Danar mengerutkan keningnya.

“Kenapa, Ca?”
“Gue pengen tetep di sini, Nar. Kalau semuanya bisa berjalan seperti apa yang gue mau, gue pengen tetap tinggal di sini, bareng keluarga gue, bareng elo.”

Danar mencoba berpikir keras tentang apa yang diucapkan oleh Aca. Aca yang ia kenal adalah seseorang yang ceria dan bisa dikatakan jarang menceritakan masalahnya. Saat ini, Danar merasa ada sesuatu yang lain dalam diri Aca.

“Ca, gue juga maunya elo tetap di sini.”
“Kenapa berhenti, Nar?”

Aca menatap Danar heran. Sepuluh menit yang lalu mereka baru saja menyepakati akan pergi ke kedai martabak favorit mereka. Tapi kenapa sekarang Danar mendadak berhenti di depan tukang gorengan??

“Lo mau beli gorengan?”

Danar tertawa. 

“Ga lah, kan kita mau beli martabak.”
“Ya terus?”

Aca meminta penjelasan.

“Pantang buat gue nyetir sambil galau, Ca. Ntar gue nabrak lagi. Lo tau kan track record kecelakaan gue gimana.”

Aca mengerutkan kening.

“Lo lagi galau? Astaga, Nar.”
“Hahaha. Elo kali yang bikin gue tiba-tiba galau, Ca.”
“Loh, kenapa gue?”
“Kan tadi gue udah bilang, gue juga maunya elo tetap di sini, Ca. Biar bisa gue ajak jalan terus.”

Aca terdiam mendengar perkataan Danar.

“Sori ya, Nar. Pikiran gue tuh tiba-tiba suka absurd sendiri. Gue sedih karena sebentar lagi harus pergi.”

Danar tersenyum.

“Absurdnya dibagi sini. Gue belum pernah tau yang namanya absurd itu gimana.”


“Ah elo, terlalu nyantai sih orangnya. Terlalu simpel, Nar.”
“Justru itu Ca, hidup itu udah ribet, ngapain dibikin ribet lagi. Kita buat sederhana aja lah.”
“Kalo gue sedih karena harus ninggalin keluarga gue dan elo, itu sederhana ga, Nar?”

Danar terdiam.

“Iya, Ca. Itu sederhana kok. Sesederhana kita yang lagi laper, terus kita pergi untuk beli martabak karena di rumah lagi ga ada makanan yang bisa kita makan. Kalau udah kenyang, ya tinggal pulang, Ca. Rumah masih tetap jadi tempat yang nyaman untuk kita kembali dan kita bisa istirahat sepuasnya.”
“Gue ngerasa nyaman ada di rumah, Nar. Ga ada tempat yang lebih baik selain di rumah.”
“Tempat untuk apa, Ca? Untuk makan tidur makan tidur? Ca, life must go on.”
“Coba lo jadi gue, Nar. Lo harus pisah dari keluarga dan orang yang lo sayang.”
“Gue udah pernah ada di posisi lo, Ca. Bahkan sampai sekarang. Bedanya, orang tua gue yang ninggalin gue di rumah.”

Aca menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin menangis.

“Ca, ini kan demi masa depan lo. Gue tau lo punya cita-cita yang harus lo raih. Dan gue tau, elo tau banget, lo ninggalin orang-orang yang lo sayang di sini, bukan karena lo memang mau ninggalin mereka. Tapi karena ada sesuatu yang akan lo perjuangkan dan lo persembahkan untuk mereka, nantinya. Butuh waktu yang ga sebentar memang, dan butuh hati yang kuat. Tapi gue yakin, elo sanggup, Ca. Ini impian lo dari dulu kan?”

Aca menarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan kencang. Saat ini ia tengah berusaha meregulasi emosinya. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Danar dengan hati-hati.

“Ada lagi ga, Nar?”
“Apaan?”

Danar menatap Aca heran.

“Ya apa kek gitu yang bisa bikin gue makin tenang. Yang barusan udah ngena sih, tapi masih kurang.”

Tawa Danar seketika meledak.
“Aduh, Ca, lo apa-apaan deh. Aneh tau ga omongan lo.”
“Ada lagi ga? Biar gue bener-bener tenang nih. Biar gue ga jadi nangis.”

Danar menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hmm, apa ya? Life must go on, Ca, tapi bukan untuk sekedar makan tidur makan tidur. Ada sih memang, orang hidup sampai tua yang kerjaannya leha-leha aja, ya kayak lo sekarang ini.”

Aca melotot.

“Kayak gue juga.”
Danar meralat omongannya.
“Ya sebut aja kayak kita sekarang ini. Enak memang tinggal di rumah, kumpul sama keluarga, jalan bareng temen. Seperti yang orang-orang sering bilang, dan kita rasakan sendiri, bahagia itu sederhana, Ca. Sesederhana bisa makan martabak bareng gue siang hari begini.”

Aca tergelak.

“Sesederhana bisa tidur di kamar kita yang nyaman, sesederhana makan masakan nyokap tiap hari, sesederhana  nyambut bokap pulang kerja setiap sore, sesederhana bisa curhat sama kakak, sesederhana ngajarin adik kita ngerjain PR ....”

Aca terpaku. Matanya mulai berkaca-kaca. Suara Danar terdengar begitu lembut di telinganya. Setiap kata yang ia ucapkan mampu menguraikan pikiran-pikiran absurd yang sejak beberapa hari terakhir mengganggunya.

“... sesederhana dikasih tisu sama orang yang lo sayang waktu lo nangis.”

Aca menerima uluran tisu dari Danar.

“Tapi Ca, masalahnya hidup kan ga sesederhana itu. Setiap pagi lo bangun, harus selalu ada pencapaian baru dalam hidup lo. Seperti waktu kita kecil, hari pertama kita belajar huruf A, dan seterusnya sampai hari ke 26 kita belajar huruf Z. Terus kita belajar membaca kalau huruf-huruf itu dikombinasikan jadi berbagai macam kata. Kemudian kita belajar angka. Dan seterusnya Ca, sampai detik ini kita hidup, udah banyak banget hal yang kita pelajari. Karena hidup bukan sekedar untuk makan tidur makan tidur, Ca.”

Aca tersenyum menyimak ucapan Danar.
“Dan bukan sekedar untuk nonton Running Man atau drama Korea.”

“Nah, itu dia, Ca.”
Danar menjentikkan jarinya. Aca memutar bola matanya.
“Iya, Nar. Gue paham sekarang. Karena hidup udah ribet, makanya bahagia harus diciptakan sesederhana mungkin ya?”
“Iya. Menurut gue sih, begitu, Ca.”

Aca mengangguk-angguk. 

“Gue belajar tentang itu ketika gue menyadari, bahagia itu sesederhana gue menyambut bokap nyokap pulang dari dinas. Ya meskipun kadang cuma 6 bulan sekali, Ca. Semua kangen dan waktu yang ga pernah gue habiskan bareng mereka, tergantikan. Dan gue selalu berusaha untuk mensyukuri itu. Hehehe.”

Danar menundukkan kepalanya. Sebentar, karena kemudian dia menoleh ke arah Aca ketika Aca menepuk pelan lengan kirinya. Danar tersenyum melihat Aca yang kembali tersenyum meskipun wajah Aca masih dibasahi oleh air mata.

“Lo nangis karena omongan gue ya, Ca?”
“Hehehe.”
“Tadi katanya gue disuruh ngomong biar lo ga jadi nangis, Ca. Gimana sih lo. Udahan ah nangisnya. Nanti dikira tukang martabak gue lagi yang bikin lo nangis.”
“Loh, emang iya kan, Nar? Lagian gue nangis karena terharu kali. Gue seneng banget punya temen kayak lo. Thanks a lot ya, Nar.”
“Ya tapi tetep aja, Ca, dikira orang lo nangis karena gue nyakitin elo.”
“Hahaha. Iya deh, ini udahan nangisnya.”
“Sip. Cabut beli martabak ya kita?”
“Lo udah ga galau lagi? Udah bisa nyetir sekarang?”
“Masih sih, Ca. Gue penasaran, pengen nyobain bahagia yang sederhana dalam bentuk yang lain.”
“Maksudnya?”

Danar tersenyum sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Apakah bahagia itu sesederhana ketika nanti gue nyambut lo pulang lagi ke sini ya, Ca?”

Share This Post

3 comments:

  1. Danar, gak nge-host The Comment? *merusak mood*

    BalasHapus
  2. Ga, danarnya lagi sibuk.. Udah ya jangan ganggu2 danar !

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus